Energi Pasang Surut: Metode Pemanfaatan Energi, Kelebihan & Kekurangannya

Hafrenpower.com – Energi sangat dibutuhkan manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas, bahkan keberlangsungan hidup manusia sendiri ditopang dengan adanya energi. Salah satu energi yang sangat dibutuhkan saat ini dan kedepannya adalah energi listrik.

Pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat mengakibatkan kebutuhan sumber daya listrik yang terus meningkat. Kebutuhan yang besar tersebut akan terus meningkat sehingga pemanfaatan energi penghasil energi listrik sangat diperlukan, salah satunya energi pasang surut.

Energi pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pasang surut air laut dan kemudian diubah menjadi energi listrik. Energi ini menjadi salah satu energi terbarukan yang saat ini masih belum banyak dikenal karena pemanfaatannya masih minim. Tingginya biaya awal pembangunan proyek energi ini serta terbatasnya lokasi sumber energi membuat pemanfaatannya masih sempit.

Meskipun demikian, penelitian dan pengembangan energi pasang surut terus ditingkatkan guna meningkatkan efisiensi dan energi yang dihasilkannya sehingga didapatkan banyak cara untuk mengekstraknya menjadi bentuk energi lain yang diinginkan.

Metode Pemanfaatan Energi Pasang Surut

Setidaknya terdapat 4 metode dalam memanfaatkan energi pasang surut air laut. Berikut diantaranya:

1. Generator Arus Pasang Surut (Tidal Stream)

Sumber: www.alternative-energy-tutorials.com

Mungkin metode pemanfaatan energi pasang surut pertama ini yang paling sederhana, yaitu dengan menggunakan energi kinetik dari arus pasang surut air laut untuk menggerakkan turbin. Prinsipnya sama seperti turbin angin yang digerakkan angin dan turbin air yang digerakkan pergerakan air di sungai maupun air terjun.

Generator ini dibangun pada fasilitas yang telah ada diarea pinggir laut, misalnya jembatan. Energi yang dihasilkan akan semakin besar pada teluk atau selat karena pergerakan arus pasang surutnya lebih besar.

2. Dinding Pasang Surut (Tidal Barrage)

Sumber: Youtube.com

Metode yang kedua adalah dengan memanfaatkan perbedaan tinggi permukaan air laut. Metode dinding atau lebih tepatnya bendungan membutuhkan pembangunan berskala besar karena dibangun di muara teluk.

Sederhananya, Tidal Barrage memanfaatkan perbedaan tinggi permukaan air laut lepas dengan air laut dibalik dinding. Setidaknya perbedaan keduanya harus lebih dari 5 meter agar mekanisme pembangkit listrik bisa diterapkan.

Ketika air laut pasang, air laut yang bergerak ke dalam teluk, selat atau bagian fitur pantai lainnya akan tertampung didalam dinding. Lalu ketika air laut surut, air akan dilepaskan dan energi kinetik yang dihasilkan dapat menggerakkan turbin.

Sayangnya dinding atau bendungan untuk pemanfaatan energi ini membutuhkan biaya yang sangat besar serta insfrastrukturnya dinilai dapat merusak lingkungan sekitar. Disamping itu, proyek pembangunannya membutuhkan waktu yang lama dan memakan biaya sangat besar.

3. Laguna Pasang Surut

Sumber: Ridomanik.blogspot.com

Metode lainnya adalah Laguna Pasang Surut. Metode ini sebetulnya mirip dengan dinding pasang surut. Namun yang menjadi kelebihannya adalah tidak membutuhkan biaya besar karena tidak membutuhkan pembangunan skala besar.

Laguna Pasang Surut menggunakan bak penampungan yang dibangun diarea dinding pasang surut. Aliran air laut akibat air yang pasang dan surut menggerakkan turbin laguna sehingga dapat diubah menjadi energi listrik.

4. Pasang Surut Dinamis

Sumber: Renewableenergyworld.com

Pasang Surut Dinamis atau dynamic tidal power masih dalam tahap eksperimen sehingga belum ada pemanfaatannya dibagian dunia manapun hingga saat ini. Namun jika penerapan metode ini benar-benar dilaksanakan, mungkin bisa menghasilkan energi yang sangat besar.

Layaknya metode Dinding Pasang Surut, metode ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi bahkan lebih tinggi karena membutuhkan pembangunan bendungan yang sangat panjang, bahkan puluhan kilometer yang dibangun diarea bibir pantai.

Pembangunan bendungan ini akan membuat beda tinggi sisi kiri dan kanan bendungan sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi.

Kelebihan Energi Pasang Surut

Energi Pasang Surut memiliki kelebihan tersendiri sehingga bisa menjadi pertimbangan pihak-pihak yang hendak mengembangkan proyek pembangunan energi ini. Berikut diantaranya:

1. Mudah Diprediksi

Energi Pasang Surut merupakan energi yang terbarukan, maksudnya adalah energi ini tidak akan habis setelah digunakan karena energi yang tercipta hasil dari pasang surut air laut yang terus berubah-ubah tanpa henti.

Pasang surut air laut terjadi akibat gravitasi matahari dan juga bulan yang saling tarik menarik, dan karena ini pula, pola pergerakannya dapat dipelajari. Dengan begitu energi ini dapat dihitung berapa jumlah energi listrik yang dihasilkan secara akurat.

2. Output Energi yang Besar

Kelebihan lain Energi Pasang Surut adalah dapat menghasilkan energi listrik dalam jumlah besar. Air memilliki kepadatan hampir 830 kali lebih padat dibandingkan dengan angin, sehingga kecepatan pergerakan yang sama akan menghasilkan energi yang jauh berbeda.

Selain itu jika pergerakan arus air laut sedang rendah, kerapatan air laut tetap bisa menggerakkan turbin. Jadi, meskipun keadaan laut sedang kurang baik, energi terbarukan tetap memungkinkan untuk menghasilkan energi listrik.

3. Turbin yang Tahan Lama

Turbin angin dan Panel Surya biasanya memiliki jaminan ketahanan sekitar 20 sampai 25 tahun, meskipun ada teknologi yang menjamin ketahanan lebih lama dengan tingkat penurunan efisiensi mencapai 0,5% pertahun. Sedangkan turbin Pasang Surut memiliki jaminan ketahanan 4 kali lebih lama yakni 100 tahun.

Selain itu, pemanfaatan energi ini memakan biaya operasinal serta pemeliharaan yang lebih rendah. Tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan dalam jangka waktu yang lama.

Kekurangan Pemanfaatan Energi Pasang Surut

Selain keuntungan, terdapat berbagai kekurangan yang membuat pemanfaatan energi pasang surut tersendat, mulai dari segi biaya pembangunan proyek yang sangat tinggi hingga efek terhadap lingkungan. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, Biaya Pembangunan yang Tergolong Tinggi

Biaya pembangunan proyek pemanfaatan energi pasang surut tergolong tinggi, bahkan sangat tinggi. Hal tersebut karena medan yang sulit serta turbin yang digunakan harus memiliki ketahanan terhadap korosi tinggi yang dihasilkan air laut.

Bahkan turbin untuk energi ini harus lebih kuat dibandingkan dengan turbin energi angin, karena tingkat kepadatan air laut lebih tinggi dibandingkan angin.

Biaya pembangunan energi ini bervariasi tergantung dari metode pemanfaatan energi apa yang akan digunakan. Selain itu teknologi yang diterapkan juga mempengaruhi jumlah biayanya.

Kedua, Efek Terhadap Lingkungan

Energi Pasang Surut memang menjadi energi terbarukan yang cukup menjanjikan, namun tetap saja terdapat efek negatif terhadap lingkungan yang harus diketahui. Pembangungan energi ini berefek pada ekosistem lingkungan sekitarnya, yaitu masalah yang sama yang ditemukan pada turbin angin.

Turbin angin yang berputar seringkali bertabrakan dengan burung dan hewan yang terbang disekitarnya. Yang ditakutkan terjadi pada turbin pembangunan energi ini juga sama, ikan dan makhluk lain berenang menuju turbin dan terjadi tabrakan yang menyebabkan luka serius bahkan mati.

Disisi lain, turbin yang berputar di dalam laut menghasilkan kebisingan tingkat rendah yang akan mempengaruhi mamalia laut, seperti anjing laut, paus, atau lumba-lumba.

Pemanfaatan Energi Pasang Surut di Indonesia

Jika melihat pada lautan dan garis pantai Indonesia yang sangat luas, kita memiliki potensi yang sangat besar. Indonesia terbagi menjadi pulau-pulau yang saling berdekatan, nantinya selat sempit yang ada bisa dibangun energi yang berguna bagi masyarakat sekitar.

Menurut data dari (RENSTRA) Rencana Strategis Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi tahun 2015–2019, terdapat berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi besar pembangunan Energi Pasang Surut.

Beberapa daerah tersebut diantaranya: Bagan Siapi-api dengan tingkat pasang surutnya mencapai 7 meter, Teluk Bima di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Teluk Palu dengan struktur geologinya merupakan patahan (Palu Graben) sehingga sangat memungkinkan gejala pasang surut, Kalimantan Barat, Papua serta pantai selatan Pulau Jawa dengan tingkat ketinggian pasang surut mencapai 5 meter lebih.

Akhir Kata

Energi pasang surut merupakan energi terbarukan yang jika dimanfaatkan dengan baik, maka dapat mencukupi kebutuhan energi oleh manusia yang juga terus meningkat. Meskipun begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut dan pemutakhiran teknologi supaya meningkatkan efisiensi dan energi yang dihasilkannya.

Indonesia memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk menerapkan pembangunan Energi laut tersebut karena luasnya wilayah lautan Indonesia serta sumber daya laut yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Kedepannya, kita semua berharap baik pihak pemerintah maupun swasta agar berupaya menerapkan energi berpotensi besar ini. Hal tersebut tak lain demi mencukupi kebutuhan energi listrik masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah pulau-pulau yang masih belum terdampak listrik.