Wilayah 2/3 Lautan, Bisakah Energi Gelombang Air laut Dikembangkan di Indonesia?

Hafrenpower.comKebutuhan energi semakin meningkat seiring meningkatnya pembangunan disertai pertumbuhan penduduk di Indonesia. Karena itu kita tidak hanya bisa mengandalkan energi yang semakin lama semakin habis karena tidak dapat diperbaharui. Kita harus mulai beralih menuju pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya Energi Gelombang Air Laut.

Sesuai namanya, Energi Gelombang Air Laut memanfaatkan gerakan naik turun gelombang air laut sehingga menghasilkan energi kinetik dan kemudian diubah menjadi energi listrik. Energi ini menggunakan media turbin atau pelampung naik-turun yang menggerakkan generator.

Konsepnya kurang lebih sama seperti Energi Pasang surut Air laut dan Energi Angin.

Disisi lain, untuk menghasilkan energi listrik dari gelombang air laut bisa menggunakan cara berbeda, yakni memanfaatkan perubahan tekanan udara yang ditangkap hasil dari gelombang air laut. Nantinya, tekanan udara yang berubah-ubah menggerakkan turbin generator sehingga menghasilkan listrik.

Energi Gelombang Air laut

Energi Gelombang Air Laut tampak menjanjikan melihat dari besarnya energi listrik yang dihasilkan serta energi yang bisa digunakan terus-menerus tanpa takut energi tersebut akan habis.

Di Seluruh pelosok bumi ini, ada banyak daerah yang bisa dimanfaatkan gelombang air lautnya untuk diubah menjadi energi yang berguna bagi kehidupan manusia. Contohnya adalah lepas pantai Agucadoura, Portugal, yang merupakan pembangkit listrik pertama di Dunia yang menggunakan gelombang lautan.

Daerah-daerah lautan yang memiliki potensi besar sebagai tempat pengembangan Energi Gelombang Air Laut adalah yang memiliki kecepatan angin yang sangat tinggi. Kecepatan angin akan memicu pergerakan lautan khususnya daerah pantai sehingga ombak semakin ganas.

Selain lepas pantai Agucadoura Portugal, kawasan kepulauan Inggris dan Pacific Northwest, AS juga memiliki potensi gelombang laut yang besar. Perkiraan potensi energi tersebut yang dihitung secara tahunan di sepanjang landas kontinen pantai AS berkisar 1.170 hingga 2.640 terawatt jam ekuivalen yang setara dengan 33 hingga 65 persen dari permintaan listrik AS pada 2015.

Baca Juga: Energi Pasang Surut: Metode Pemanfaatan Energi, Kelebihan & Kekurangannya

Potensi Energi Gelombang Air laut di Indonesia

Ilustrasi gambar

Menurut Energy Information Administration (EIA), ditaksir bahwa potensi Energi Gelombang Air laut yang cukup besar terdapat di pantai AS, Eropa, Jepang, dan Selandia Baru. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah wilayah kita memiliki potensi yang cukup besar juga?

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, setidaknya 2/3 wilayah kita adalah lautan. Secara detail, persentase lautan Indonesia mencapai 70% atau sekitar 5,8 km2 dengan panjang garis pantai mencapai 95.181 km.

Ini menjadikan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan Energi Gelombang Air Laut, sebuah energi terbarukan dengan tingkat densitas energi yang tinggi, rendah emisi karbon, dan juga rendah dampak lingkungannya.

Sebuah penelitian menghitung potensi Energi Gelombang Laut pada area pesisir selatan Jawa Barat dengan menggunakan data dari Wavewatch-III (model numerik yang menggambarkan keadaan pantai Indonesia sepanjang tahun 1991 hingga 2011). Salah satu titik yang diamati studi kasus ini adalah daerah bernama Cidaun, dengan potensi energi mencapai 42,41 kW per meter.

Dalam riset tersebut, teknologi yang paling mungkin diterapkan adalah Heaving Device atau perangkat terapung. Ini merupakan sebuah teknologi yang secara fisik mirip dengan benda terapung namun terikat kuat dengan pondasi di dasar laut.

Akan tetapi, harga pembangkit energi listrik ini mencapai sekitar Rp.3.266 per kWh, jauh diatas harga listrik PLN yang berada pada kisaran Rp.1.500 per kWh.

Mahalnya harga pembangkit listrik tersebut bisa dimaklumi karena teknologi yang masih belum matang akibat dari gelombang air laut yang begitu dinamis serta tingkat korosi air laut yang tinggi, sehingga memerlukan mesin yang benar-benar kuat dan canggih.

Sebelum benar-benar menerapkan pembangit energi listrik yang memanfaatkan gelombang air laut tersebut, dibutuhkan riset yang mendalam dan signifikan sehingga potensi yang besar bisa dimanfaatkan secara maksimal.